Jaap de Hoop Scheffer
07 Juli 2026•Update: 07 Juli 2026
Di tengah arsitektur keamanan global yang menghadapi ujian paling berat dalam beberapa dekade terakhir, KTT NATO di Ankara berlangsung pada momen yang sangat menentukan.
Sepanjang sejarahnya, NATO telah mengalami berbagai perubahan besar. Pada era Perang Dingin, aliansi ini berhasil melindungi Eropa selama puluhan tahun di bawah payung keamanan Amerika Serikat. Runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet kemudian memaksa NATO beradaptasi dengan tatanan dunia yang sama sekali baru.
Setelah perubahan tersebut, NATO berkembang menjadi aliansi yang berorientasi pada operasi di luar kawasan. Afghanistan menjadi salah satu contohnya. Operasi yang awalnya dipimpin Amerika Serikat melalui Operation Enduring Freedom kemudian berkembang menjadi misi NATO berdasarkan mandat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kini, NATO kembali memasuki fase transformasi baru dengan menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), perang hibrida, dan berbagai ancaman modern. Menurut penulis, aliansi tersebut kini sedang menuju fase yang dapat disebut sebagai NATO 3.0.
Agenda Ankara: Pembagian beban dan pertahanan perbatasan
Dalam memasuki era NATO 3.0, KTT di Ankara diharapkan menghasilkan kesepakatan mengenai sejumlah isu strategis. Salah satu yang utama adalah memastikan seluruh negara anggota memenuhi komitmen pembiayaan pertahanan yang disepakati pada KTT di Den Haag tahun lalu, yakni peningkatan belanja pertahanan hingga 3,5 persen ditambah 1,5 persen untuk sektor terkait, sehingga total mencapai 5 persen.
Selain persoalan anggaran, NATO juga harus menghadapi perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung dan situasi Timur Tengah yang semakin kompleks. Menurut penulis, meskipun NATO tidak berperan langsung di Timur Tengah, keamanan global tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sementara itu, perang di Ukraina yang terus menelan korban jiwa membuat penguatan pertahanan di sayap timur NATO tetap menjadi prioritas utama.
Ketahanan NATO dan jangkauan global
Penulis menilai berbagai prediksi mengenai melemahnya NATO selama bertahun-tahun terbukti tidak tepat. Aliansi tersebut berkali-kali dinyatakan akan runtuh, namun selalu mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan strategis.
Sebagai bagian dari proses adaptasi itu, NATO juga semakin memberi perhatian terhadap perkembangan di China dan kawasan Indo-Pasifik. Menurut penulis, bukan berarti NATO akan melakukan intervensi militer di kawasan tersebut, melainkan karena perkembangan keamanan di satu kawasan akan berdampak terhadap kawasan lain. Penulis juga berpendapat Presiden Amerika Serikat Donald Trump benar ketika menuntut negara-negara Eropa mengambil porsi tanggung jawab yang lebih besar, terutama dalam pembiayaan pertahanan.
Menyeimbangkan prioritas kawasan
Penulis menilai fokus utama NATO dalam beberapa tahun mendatang tetap berada di sayap timur akibat ancaman yang berasal dari Rusia. Namun, dari perspektif Turkiye, NATO juga tidak boleh mengabaikan kawasan selatan yang memiliki arti strategis bagi keamanan aliansi secara keseluruhan.
Meski demikian, menurut penulis, ancaman paling mendesak saat ini tetap berasal dari Rusia yang masih melanjutkan perang terhadap Ukraina.
Peran strategis Turkiye
Menurut penulis, keputusan menjadikan Turkiye sebagai tuan rumah KTT NATO tahun ini merupakan pengakuan atas posisi negara tersebut sebagai kekuatan menengah yang berpengaruh. Dengan populasi lebih dari 80 juta jiwa serta angkatan bersenjata yang besar, Turkiye dinilai memberikan kontribusi penting bagi NATO.
Setelah terakhir menjadi tuan rumah pada KTT NATO di Istanbul tahun 2004, penulis menilai sudah waktunya Turkiye kembali memegang peran tersebut. Hal itu dianggap mencerminkan bobot politik dan militernya yang semakin besar di tingkat global, sekaligus memperkuat peran Turkiye dalam menjaga keamanan sayap-sayap NATO.
Menuju "Eropanisasi" keamanan NATO
Dalam pandangan penulis, masa depan NATO akan ditentukan oleh meningkatnya tanggung jawab negara-negara Eropa terhadap keamanan mereka sendiri. Ia menilai tuntutan Trump agar Eropa berkontribusi lebih besar sebagai mitra dalam aliansi merupakan hal yang wajar.
Penulis memperkirakan NATO secara bertahap akan mengalami proses "Eropanisasi" dalam struktur komandonya. Menurutnya, Eropa harus semakin mampu mempertahankan diri tanpa sepenuhnya bergantung pada dukungan militer langsung dari Amerika Serikat. Namun, perubahan tersebut tetap didasarkan pada asumsi bahwa jaminan perlindungan nuklir NATO akan tetap dipertahankan.
[Penulis menyatakan optimistis kemitraan transatlantik akan tetap cukup kuat untuk menjaga jaminan tersebut di masa mendatang.]
*Pandangan dalam artikel ini sepenuhnya merupakan pendapat penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan redaksi Anadolu Agency.