Nani Afrida
06 November 2020•Update: 09 November 2020
Peter Kum dan Rodrigue Forku
YAOUNDE, Kamerun
Sebelas guru yang diculik di Wilayah Barat Laut Kamerun pada hari Selasa telah dibebaskan.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa 11 guru yang telah diculik dari Sekolah Dasar Presbiterian di Kumbo telah dibebaskan Kamis sore ini," kata Samuel Fonki, kepala Gereja Presbiterian Kamerun (PCC), kepada Anadolu Agency Kamis malam.
“Para dokter telah mengecek kesehatan mereka dan semua baik-baik saja. Mereka dibebaskan oleh penculiknya di bawah tekanan dari masyarakat sipil termasuk serikat guru dan Gereja Presbiterian dan tanpa kompensasi uang," kata Fonki sambil berterima kasih kepada semua yang ambil bagian dalam mediasi.
Pada hari Selasa, 12 guru dan beberapa siswa diculik oleh kelompok separatis di Kumbo di Wilayah Barat Laut, salah satu wilayah berbahasa Inggris di negara itu, yang telah dirusak oleh kekerasan sejak 2017.
Para siswa kemudian dibebaskan bersama dengan salah satu guru.
Sementara sebelas guru lainnya telah ditahan oleh separatis, yang menuntut pembayaran uang tebusan sebagai ganti sandera.
Penculikan itu terjadi 10 hari setelah pembunuhan tujuh anak sekolah di Kumba di Wilayah Barat Daya, yang sebagian besar berbahasa Inggris.
Mereka ditembak mati di ruang kelas mereka oleh separatis bersenjata, menurut pernyataan pemerintah.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dia "terkejut" dengan penyerangan yang disebut "mengerikan".
Setelah pembantaian tersebut, beberapa beberapa pegiat sosial media yang terkenal melakukan kampanye dengan tagar #EndAnglophoneCrisis untuk mengecam serangan tersebut dan mendesak pemerintah dan separatis untuk menyelesaikan krisis, yang telah mempengaruhi ratusan ribu orang.
Negara Afrika Tengah telah dirusak oleh protes dan kekerasan sejak 2017.
Penduduk di wilayah berbahasa Inggris mengatakan mereka telah terpinggirkan selama beberapa dekade oleh pemerintah pusat dan mayoritas berbahasa Prancis.
Kekerasan di wilayah Anglophone selama tiga tahun terakhir telah merenggut sekitar 3.000 nyawa dan lebih dari 730.000 warga sipil mengungsi, menurut Human Rights Watch.
Pada bulan Juni, Dewan Pengungsi Norwegia mengatakan bahwa untuk dua tahun berturut-turut, Kamerun menduduki puncak daftar tahunan krisis pengungsian yang paling terabaikan di dunia pada tahun 2019.