Busra Nur Cakmak
16 September 2026•Update: 16 September 2026
Militer Amerika Serikat (AS) menggunakan hingga 70 rudal pencegat Patriot dan lebih dari selusin pencegat antirudal THAAD untuk menghadapi satu serangan rudal balistik Iran ke Yordania baru-baru ini, menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap persediaan pertahanan udara AS, menurut laporan The Wall Street Journal pada Selasa.
Mengutip sejumlah pejabat AS dan regional yang mengetahui masalah tersebut, surat kabar itu melaporkan pasukan AS menembakkan antara 60 hingga 70 pencegat Patriot untuk menghadapi serangan yang melibatkan sekitar 20 rudal balistik. Lebih dari selusin pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) juga diluncurkan.
Jumlah pencegat yang digunakan dalam satu serangan tersebut hampir setara dengan yang pernah ditembakkan pasukan AS selama satu pekan penuh pada periode lain dalam konflik, menurut laporan itu.
Iran dilaporkan menggunakan hulu ledak yang terpecah menjadi beberapa proyektil saat mendekati sasaran, sehingga mempersulit upaya pencegatan.
Sistem pertahanan AS tidak berhasil menghentikan seluruh serangan. Iran menghantam jet tempur dan pesawat lainnya di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, meski tidak ada personel AS yang tewas dalam serangan terbaru tersebut, kata The Wall Street Journal.
Sejumlah pejabat mengatakan serangan Iran semakin kompleks selama konflik dengan menggunakan berbagai jenis rudal, lintasan, manuver, dan hulu ledak untuk mencoba menembus pertahanan AS.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak mengomentari laporan tersebut, sementara Pentagon membantah anggapan bahwa persediaan amunisi AS telah menipis.
"Laporan yang menyebut persediaan amunisi Amerika Serikat telah menipis sepenuhnya tidak benar," kata juru bicara Pentagon Sean Parnell, seraya menambahkan militer AS tetap mampu merespons berbagai ancaman.
Presiden Donald Trump pada Senin juga mengatakan AS memiliki persediaan rudal pencegat dalam jumlah besar dan tengah meningkatkan produksinya.
Namun, Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS dalam laporan pekan ini mengatakan konflik tersebut "telah menyebabkan kekurangan persediaan strategis dan mengungkap hambatan kapasitas industri dalam memasok kembali amunisi."
Hingga pertengahan Juli, AS telah menggunakan sekitar 1.700 pencegat Patriot dan lebih dari 200 pencegat THAAD selama konflik, menurut sejumlah pejabat yang dikutip The Wall Street Journal.
Kapal-kapal Angkatan Laut AS juga telah menembakkan sekitar 150 rudal pencegat Standard Missile untuk menghadapi rudal dan drone Iran.
Lockheed Martin, yang memproduksi pencegat Patriot, menghasilkan 620 unit pada 2025 dan tengah berupaya meningkatkan produksi tahunan menjadi sekitar 2.000 unit, menurut laporan tersebut.
Sejumlah pejabat AS juga menyuarakan kekhawatiran bahwa pengerahan amunisi dalam jumlah besar ke Timur Tengah dapat memengaruhi kemampuan Washington dalam menghadapi potensi ancaman di kawasan lain, termasuk Eropa dan Indo-Pasifik.
Secara terpisah, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan kepada program "60 Minutes" CBS pekan ini bahwa dia tidak khawatir dengan kekurangan rudal pencegat dan pasukan AS siap menghadapi berbagai kemungkinan.
Tekanan terhadap persediaan rudal pencegat juga mendorong negara-negara Teluk mencari tambahan amunisi pertahanan udara setelah berbulan-bulan menghadapi serangan rudal dan drone Iran. Kondisi tersebut juga memengaruhi ketersediaan sistem untuk pertahanan Ukraina dalam menghadapi serangan Rusia, menurut The Wall Street Journal.