Servet Günerigök
16 Februari 2022•Update: 22 Februari 2022
WASHINGTON
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Selasa bahwa krisis Rusia-Ukraina dapat diselesaikan "secara damai", menurut Departemen Luar Negeri AS.
Selama percakapan telepon, Blinken menegaskan kembali komitmen AS untuk terus mengejar solusi diplomatik untuk krisis yang telah ditimbulkan Moskow.
"Dia mengatakan sementara agresi Rusia terhadap Ukraina akan menghasilkan respons Transatlantik yang cepat, parah, dan bersatu, kami tetap berkomitmen pada jalur diplomatik dan percaya bahwa masih ada jendela untuk menyelesaikan krisis secara damai," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price dalam sebuah pernyataan.
Blinken juga mengatakan Washington "berharap untuk menerima tanggapan tertulis Rusia terhadap dokumen AS dan NATO yang dibagikan dengan Moskow bulan lalu yang mengusulkan area konkret untuk diskusi mengenai keamanan Eropa dalam koordinasi dengan Sekutu dan mitra kami."
"Menlu Blinken menegaskan kembali keprihatinan kami yang berkelanjutan bahwa Rusia memiliki kapasitas untuk meluncurkan invasi ke Ukraina setiap saat dan menekankan perlunya melihat de-eskalasi yang dapat diverifikasi, kredibel, dan bermakna," kata Price.
Diskusi itu terjadi beberapa jam setelah muncul laporan bahwa Moskow mengatakan beberapa tentara Rusia mundur dari perbatasan Ukraina.
Moskow, menurut pejabat Ukraina dan NATO, baru-baru ini mengumpulkan lebih dari 100.000 tentara di dekat Ukraina, memicu kekhawatiran bahwa Kremlin dapat merencanakan serangan militer terhadap Ukraina.
Rusia membantah sedang bersiap untuk menyerang dan menuduh negara-negara Barat merusak keamanannya melalui ekspansi NATO ke perbatasannya.
Rusia juga mengeluarkan daftar tuntutan keamanan ke Barat, termasuk mundurnya pengerahan pasukan dari beberapa negara bekas Soviet, dan menjamin bahwa beberapa negara tersebut tidak akan bergabung dengan NATO.
Dalam tanggapan tertulis atas tuntutan tersebut, Washington mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menegakkan kebijakan pintu terbuka NATO, sementara NATO juga menyampaikan jawaban aliansi tersebut “secara paralel dengan AS.”