Sorwar Alam dan Burcu Arik
17 Mei 2018•Update: 18 Mei 2018
Sorwar Alam dan Burcu Arik
ANKARA
Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Rabu mengkritik PBB karena tidak melakukan apa pun menghadapi kebrutalan Israel di Jalur Gaza.
Berbicara di sebuah acara buka puasa dengan keluarga martir di Ankara, Erdogan mengatakan, “PBB sudah selesai, berakhir, runtuh. Pada saat ini, saya tidak dapat menghubungi sekretaris jenderal PBB meskipun memiliki persahabatan yang baik [dengan dia]. "
Erdogan menekan mereka "tidak akan pernah membiarkan Yerusalem dirampas oleh Israel".
"Kami selalu mendukung perjuangan saudara-saudara kami hingga tanah Palestina - yang telah lama diduduki - mencapai perdamaian dan keamanan di negara mereka yang merdeka," tambahnya.
Presiden Turki menuduh komunitas internasional gagal menghentikan serangan-serangan Israel, dan menuding badan-badan internasional akan melakukan lebih banyak jika pembunuhan semacam itu terjadi di tempat lain.
"Kami tidak akan tetap diam terhadap Israel meskipun dunia menutup mata terhadap penindasan ini," sumpah Erdogan.
Sebelumnya, dia mengumumkan unjuk rasa massal pada Jumat di Lapangan Yenikapi Istanbul untuk menunjukkan solidaritas dengan Palestina.
Turki, sebagai ketua sementara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), menyerukan agar digelar KTT darurat OKI pada Jumat di Istanbul untuk membahas tindakan terhadap melawan Israel.
Erdogan mengatakan keputusan AS untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem bagai "mengejek" pemerintah Israel.
Dia bersumpah terus mendukung Palestina "bukan hanya dengan hati namun dengan segala upaya yang bisa dilakukan."
Bila masyarakat internasional tetap diam di hadapan tirani Israel, dunia akan terseret ke arah premanisme, lanjut Erdogan.
Sejak Senin, sedikitnya 62 demonstran Palestina yang menggelar unjuk rasa di perbatasan Jalur Gaza - Israel tewas ditembak oleh Pasukan Pertahanan Israel.
Terbunuhnya orang-orang Palestina telah memicu kecaman global, namun Israel mengklaimnya sebagai upaya pertahanan diri.
Ribuan warga Palestina berunjuk rasa di perbatasan timur Jalur Gaza pada Senin pagi untuk memprotes pendudukan Israel dan relokasi kedubes AS ke Yerusalem.
Sejak aksi protes dimulai pada 30 Maret, lebih dari 100 demonstran Palestina tewas ditembak.