Tuğrul Çam
ANKARA
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menerima kunjungan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Agnes Callamard yang mendatangi Turki untuk menyelidiki kasus pembunuhan wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi.
Callamard beserta para pakar lainnya melakukan kunjungan resmi ke kediaman Kementerian Luar Negeri Turki.
Selain bertemu dengan Menlu Cavusoglu, delegasi penyelidik PBB juga dijadwalkan akan bertemu dengan Menteri Kehakiman Abdulhamit Gul dan juga Kepala Jaksa Penuntut Umum Istanbul Irfan Fidan.
Melalui seorang staf PBB, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengungkapkan bahwa Callamard pada 28 Januari hingga 2 Februari akan mengunjungi Turki untuk melakukan penyelidikan internasional atas pembunuhan Khashoggi pada bulan 2 Oktober lalu.
Penyelidikan internasional tersebut akan dipimpin oleh Callamard. Sementara Callamard bertekad akan meninjau dan menimbangkan kasus pembunuhan Khashoggi itu sesuai asas-asas hak asasi manusia.
Dalam kunjungannya ke Turki itu Callamard akan didampingi oleh pengacara Inggris Helena Kennedy dan mantan ketua Akademi Kedokteran Forensik Dunia dan Kepala Fakultas Kedokteran Universitas Coimbra Prof. Dr. Duarte Nuno Vieira.
Para pelapor PBB itu akan mempertimbangkan beban tanggung jawab yang diberikan pemerintah dan individu dalam menyelidiki kasus pembunuhan jurnalis Khashoggi.
Callamard akan mempersembahkan informasi yang diperolehnya selama proses investigasi serta rekomendasi-rekomendasi mengenai hasil investigasi pada sesi rapat Dewan HAM PBB bulan Juni mendatang.
Sebelumnya pada Kamis, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menegaskan bahwa Turki sedang melakukan penyelidikan transparan pada kasus ini dan bahwa penting untuk mengekspos para pelaku dalam pembunuhan tersebut.
Mengutip pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menyerukan penyelidikan internasional atas kasus ini, Cavusoglu mengatakan Callamard akan mengunjungi Turki pada akhir Januari.
Khashoggi, seorang kontributor Washington Post, terbunuh di Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018.
Setelah memberikan berbagai penjelasan yang bertentangan, Arab Saudi mengakui bahwa dia terbunuh di dalam gedung konsulat, menuding tindakan itu merupakan bagian dari operasi rendisi yang gagal.
Turki meminta ekstradisi warga Saudi yang terlibat dalam pembunuhan tersebut serta hasil penyelidikan yang lebih lengkap soal pembunuhan itu dari Riyadh.