30 Desember 2024•Update: 30 Desember 2024
KAIRO
Menteri luar negeri Mesir dan Sudan mengadakan pembicaraan di Kairo pada Minggu untuk membahas keamanan air dan dukungan bagi negara Tanduk Afrika, Somalia.
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty bertemu dengan mitranya dari Sudan Ali Al-Sharif dan membahas keamanan air, kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.
Kedua menteri menekankan perlunya menjaga koordinasi dan kerja sama antara kedua negara untuk melindungi keamanan air mereka, tambahnya.
Mesir dan Sudan, dua negara di hilir, telah berselisih dengan Ethiopia, negara di hulu, mengenai proyek bendungan yang dibangun di Sungai Nil.
Kairo khawatir bendungan Ethiopia akan mengurangi jatah airnya dari Sungai Nil, satu-satunya sumber air tawar negara itu. Namun, Ethiopia bersikukuh bahwa bendungan itu penting untuk pembangunan dan pembangkitan listriknya.
Negosiasi selama bertahun-tahun antara ketiga negara mengenai pengisian dan pengoperasian bendungan itu gagal menghasilkan terobosan.
Mengenai Somalia, kedua menteri sepakat mengenai pentingnya menghormati kedaulatan, persatuan, dan integritas wilayah Somalia serta mendukung upaya negara Tanduk Afrika itu untuk memerangi terorisme, kata pernyataan itu.
Ketegangan antara Somalia dan Ethiopia meningkat pada Januari 2023 ketika Ethiopia menandatangani perjanjian dengan wilayah Somaliland yang memisahkan diri, yang memungkinkan Ethiopia akses ke garis pantainya di Teluk Aden.
Pada awal Desember, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan "perjanjian bersejarah" antara Somalia dan Ethiopia untuk menyelesaikan perselisihan mereka.
Secara terpisah, Abdelatty menekankan dukungan penuh Mesir terhadap Sudan di tengah konflik mematikan antara tentara dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) sejak April 2023.
Ia menegaskan kembali seruan Mesir untuk gencatan senjata segera di Sudan dan mempercepat pengiriman bantuan kemanusiaan ke negara itu.
Konflik di Sudan telah merenggut lebih dari 20.000 nyawa, membuat jutaan orang mengungsi, dan membuat lebih dari 25 juta orang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, menurut PBB.