Muhammad Abdullah Azzam
22 Mei 2020•Update: 22 Mei 2020
Ali Abo Rezeg
ANKARA
Otoritas Mesir menuduh Uni Emirat Arab (UEA) bertanggung jawab atas kekalahan terbaru milisi jenderal pemberontak Khalifa Haftar dari tentara Libya, menurut sebuah laporan sebuah media pada Kamis.
Harian Al-Araby Al-Jadeed yang bermarkas di London mengutip sumber-sumber pejabat Mesir yang mengatakan bahwa Kairo "sangat kecewa" oleh "gerakan sepihak" UEA dalam krisis Libya.
Sumber itu mengungkapkan bahwa perbedaan antara Kairo dan Abu Dhabi telah muncul setelah tentara Libya merebut kembali pangkalan udara strategis Al-Watiya.
Sumber menambahkan bahwa Mesir khawatir bahwa pemerintah Libya dapat meminta Turki untuk membangun pangkalan militer di negara itu sejalan dengan perjanjian kerja sama yang ditandatangani tahun lalu antara kedua belah pihak.
Mesir, bersama dengan UEA, Prancis, Rusia dan Arab Saudi menjadi pendukung utama milisi Haftar.
Namun, laporan itu mengatakan bahwa Mesir meminta UEA untuk mendukung upaya keluar politik dari krisis Libya saat ini.
Tentara Libya pada Senin merebut kembali pangkalan udara Al-Watiya yang diduduki oleh milisi Haftar, sebuah fasilitas penting yang sekarang kembali di bawah kendali pemerintah Libya setelah sekitar enam tahun di bawah pasukan kudeta.
Langkah itu dilakukan setelah tentara Libya menghancurkan tiga sistem pertahanan udara jenis Pantsir buatan Rusia yang digunakan oleh pasukan Haftar yang dipasok oleh UEA.
Pemerintah Libya diserang oleh pasukan Haftar sejak April 2019, dengan lebih dari 1.000 tewas dalam insiden kekerasan.
Menyusul penggulingan mendiang penguasa Muammar Gaddafi pada 2011, pemerintah Libya didirikan pada 2015 di bawah kesepakatan politik yang dipimpin oleh PBB.