Muhammad Abdullah Azzam
21 Februari 2019•Update: 22 Februari 2019
Afra Aksoy, Muhammed er-Ris
JEDDAH
Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengutuk tindakan pasukan penjajah Israel yang menyergap dan melakukan "serangan brutal" terhadap Masjid al-Aqsa.
OKI memperingatkan serangan-serangan tersebut dapat menyeret Israel ke dalam masalah yang lebih parah.
"Kami mengutuk serangan brutal oleh pasukan Israel terhadap Masjid al-Aqsa yang diberkahi,” ungkap pernyataan tertulis dari OKI.
Serangan semacam itu memancing emosi umat Islam, dan secara terang-terangan Israel ingin menyatakan bahwa mereka telah melanggar keputusan dan konvensi internasional, lanjut pernyataan tersebut.
OKI menekankan bahwa Israel bertanggung jawab atas konflik agama, ekstremisme, ketidakstabilan, dan serangan berulang kali yang merendahkan keputusan dan konvensi internasional di wilayah Palestina.
Otoritas Palestina mengutuk tindakan pelanggaran yang baru-baru ini dilakukan terhadap Masjid al-Aqsa dan menyebut Israel tengah menyeret wilayah itu ke dalam konflik antar agama.
Pihak Palestina juga memperingatkan jika pasukan Israel masih melanjutkan pelanggaran yang melawan hukum tersebut, akan ada reaksi setimpal yang akan membahayakan perdamaian di kawasan itu.
Berdasarkan pernyataan tertulis dari Kepresidenan Palestina, telah terjadi pelanggaran terhadap nilai-nilai sakral rakyat Palestina, umat Islam dan Kristiani, pemutusan tunjangan terhadap keluarga warga Palestina yang tewas akibat kekerasan tentara Israel dan keluarga tahanan Palestina di penjara Israel. Dimana semua pelanggaran itu telah melanggar perjanjian kedua belah pihak dan hukum internasional.
Pada hari Minggu kemarin, polisi Israel merantai pintu di kepala tangga menuju gerbang ar-Rahmat di dinding timur Masjid Al-Aqsa, yang telah ditutup sejak tahun 2003.
Sekelompok pemuda Palestina berkumpul di Masjid Al-Aqsa untuk mendobrak pintu tersebut.
Namun, polisi Israel langsung menahan beberapa orang muda dan menutup gerbang Harem-i Sharif untuk sementara waktu.
Masjid al-Aqsa, yang terletak di Yerusalem Timur yang diduduki, memiliki keutamaan sebagai kiblat pertama umat Islam.