Sadik Kedir Abdu
29 Juni 2018•Update: 29 Juni 2018
Sadik Kedir Abdu
ANKARA
Meningkatnya krisis perawatan global diperkirakan akan berdampak langsung pada 2,3 miliar orang pada tahun 2030, kata Organisasi Buruh Internasional dalam laporannya yang dirilis pada Rabu.
Lewat sebuah pernyataan, organisasi PBB itu mengatakan: "Perubahan besar dalam kebijakan harus direalisasikan untuk peningkatan kebutuhan perawatan dan mengatasi kesenjangan besar antara tanggung jawab perempuan dan pria".
Pernyataan itu juga menekankan kesulitan yang dihadapi para ibu yang membesarkan anak-anak di bawah usia enam tahun, sementara kurang dari setengah dari mereka sebenarnya memiliki kemampuan untuk memiliki pekerjaan berupah.
“Keluarga inti, kepala keluarga tunggal, dan pertumbuhan pekerja perempuan di negara-negara tertentu telah menyebabkan lonjakan permintaan untuk pekerja perawatan,” kata Laura Addati, penulis utama laporan tersebut dalam pernyataan.
"Jika tidak ditangani dengan benar, maka hal ini dapat memicu krisis perawatan global yang akut, bahkan meningkatkan ketidaksetaraan gender di dunia kerja," tambah dia.
Berdasarkan data yang dikumpulkan dari 64 negara, saat ini dua miliar orang memberikan layanan perawatan tak berbayar.
Selain itu, ada lebih dari dua miliar orang, termasuk 1,9 miliar anak-anak di bawah usia 15 tahun dan 200 juta orang lanjut usia yang membutuhkan perawatan.
Laporan tersebut juga menekankan bahwa pembagian kerja yang tidak adil antara perempuan dan laki-laki, terkait dengan keyakinan yang telah mengakar kuat di banyak budaya bahwa pria adalah pencari nafkah utama keluarga dan perempuan adalah pengasuh utama.
Pada 2018, 606 juta perempuan usia kerja menyatakan bahwa pekerjaan yang tak berbayar telah menahan mereka untuk memiliki pekerjaan berupah, sementara 41 juta pria mengatakan mereka tidak bekerja karena tidak termasuk dalam angkatan kerja.