Muhammad Abdullah Azzam
23 Juni 2020•Update: 23 Juni 2020
Diana Shalhoub
TRIPOLI
Kementerian Pertahanan Libya pada Senin mengatakan pembebasan dan pengendalian pusat kota Sirte dan pangkalan al-Jufra oleh pemerintah membuat kepentingan negara sahabat bisa dilayani secara optimal.
"Ini melayani kepentingan semua saudara dan teman dengan mengembalikan Sirte dan al-Jufra ke kendali negara," kata menteri luar negeri Salah Al-Namroush dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Operasi Gunung Berapi Kemarahan.
"Kami berharap dari semua saudara dan teman untuk mendukung pemerintah yang sah demi mencapai stabilitas di seluruh wilayah Libya," kata dia.
Dia mengatakan laporan dari para ahli Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres membuktikan bahwa sejumlah negara Arab terlibat dalam agresi terhadap ibu kota Tripoli.
"Amunisi dan peralatan mereka membunuh anak-anak kami dan menghancurkan negara kami," kata Al-Namroush sambil menegaskan kembali bahwa pasukan Libya "akan melanjutkan sampai meraih kendali atas seluruh wilayah Libya".
Dalam wawancara yang disiarkan oleh televisi Mesir dari kota Matrouh di dekat perbatasan Libya pada Sabtu, Abdel-Fattah al-Sisi mengungkapkan bahwa "jika diperlukan" Kairo dapat meluncurkan "kekuatan militer eksternal" ke Libya.
Al-Sisi mengatakan kepada pasukannya untuk "bersiap untuk melaksanakan misi apa pun di sini di dalam perbatasan kami, atau jika perlu di luar perbatasan kami."
Presiden Mesir mengatakan kota Sirte dan pangkalan udara al-Jufra adalah "garis merah", dia memerintahkan pasukannya agar "bersiap untuk melaksanakan misi apa pun di sini di dalam perbatasan, atau jika perlu di luar perbatasan".
PBB mengakui pemerintah Libya yang dipimpin oleh Perdana Menteri Fayez al-Sarraj sebagai otoritas yang sah negara itu saat Tripoli memerangi milisi Jenderal Khalifa Haftar.
Pemerintah Libya meluncurkan Operasi Badai Perdamaian terhadap Haftar pada Maret kemarin untuk melawan serangan di ibu kota, Tripoli, dan mereka berhasil membebaskan lokasi-lokasi strategis, termasuk Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat.
Negara itu sangat mengutuk dukungan militer oleh Mesir, UEA, Prancis, dan Rusia atas serangan Haftar terhadap Tripoli, yang dimulai pada 4 April 2019.