LONDON
Inggris akan memberikan paket bantuan militer ke Ukraina, termasuk senjata pertahanan dan bantuan lainnya “mengingat meningkatnya perilaku mengancam dari Rusia,” kata Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Rabu.
Johnson mengatakan Inggris berada "di depan dalam menawarkan dukungan militer" ke Ukraina dan mereka "menyimpan amunisi sebagai cadangan untuk apa yang bisa menjadi perjuangan yang berlarut-larut."
Dalam sesi pertanyaan mingguan dari anggota parlemen di gedung pemerintahan, Johnson mengatakan 275 orang telah diberi sanksi, dan "akan ada lebih banyak lagi yang akan datang."
Menanggapi pertanyaan oleh pemimpin Partai Buruh Keir Starmer bahwa apakah Inggris akan melarang Rusia menggunakan sistem pembayaran internasional SWIFT, Johnson mengatakan Inggris siap untuk meningkatkan sanksi dengan "undang-undang jangkauan jauh" yang baru diperkenalkan.
Sanksi
Inggris pada Selasa mengumumkan sanksi yang menargetkan lima bank Rusia dan tiga orang Rusia terkenal.
Negara tersebut telah mendukung Ukraina dengan senjata pertahanan sejak krisis dimulai di sepanjang perbatasan Ukraina-Rusia.
Putin pada Senin mengumumkan bahwa Moskow mengakui dua wilayah timur Ukraina yang memisahkan diri sebagai negara “merdeka”, diikuti dengan cepat oleh perintah mengirim pasukan Rusia ke sana untuk “menjaga perdamaian.”
Pengumuman itu mendapat kecaman global yang luas sebagai pelanggaran Piagam PBB dan hukum internasional, dengan negara-negara Barat mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia.
Pada 2014, setelah menginvasi Semenanjung Krimea Ukraina, Moskow mulai mendukung pasukan separatis di Ukraina timur melawan pemerintah pusat, sebuah kebijakan yang telah dipertahankan selama tujuh tahun terakhir. Konflik tersebut telah merenggut lebih dari 13.000 nyawa, menurut PBB.
Langkah terbaru Putin setelah Rusia mengumpulkan sekitar 100.000 tentara dan alat berat di dalam dan sekitar tetangganya, dengan AS dan negara-negara Barat menuduhnya menyiapkan panggung untuk invasi.
Rusia membantah sedang mempersiapkan invasi dan sebaliknya mengklaim negara-negara Barat merusak keamanannya melalui ekspansi NATO menuju perbatasannya.