Muhammad Abdullah Azzam
08 Januari 2020•Update: 08 Januari 2020
Halime Afra Aksoy
BAGHDAD
Perdana Menteri Irak Adil Abdul-Mahdi memberi tahu Duta Besar Amerika Serikat (AS) di Baghdad Matthew Tueller tentang keputusan Irak untuk mengeluarkan tentara AS dan pasukan asing lainnya dari negaranya.
Menurut pernyataan tertulis dari pemerintah Irak, PM Abdul-Mahdi menerima Duta AS Besar Tueller di kantornya di ibu kota Baghdad.
Mereka membahas isu terkini dan sikap pemerintah Irak.
Abdul-Mahdi mengatakan bahwa pihaknya perlu bekerja sama dengan Tueller untuk menerapkan keputusan Parlemen Irak tersebut serta menjaga hubungan dengan Amerika Serikat.
PM Irak menekankan bahwa pihaknya telah berupaya banyak untuk mencegah kondisi tegang seperti itu agar tidak menyeret mereka ke dalam perang terbuka.
Abdul-Mahdi mengatakan hubungan negaranya bedasarkan pada kerja sama, rasa saling menghormati serta keamanan, stabilitas dan perlindungan kedaulatan nasional.
Dalam sidang luar biasa pada Minggu, parlemen Irak dengan suara bulat memutuskan untuk mengusir pasukan AS dari negara itu.
Langkah itu dilakukan setelah Qasem Soleimani, kepala Pasukan Quds dari Garda Revolusi Iran, tewas dalam serangan udara drone AS di Irak pada Jumat.
Kematian Soleimani meningkatkan ketegangan antara AS dan Iran secara dramatis, meskipun selama ini hubungan kedua negara sering memanas sejak 2018, ketika Presiden Donald Trump memutuskan untuk menarik Washington secara sepihak dari pakta nuklir 2015.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan kekecewaannya atas pemungutan suara, dan mendesak Baghdad untuk mempertimbangkannya kembali.
Presiden Donald Trump mengatakan, kemungkinan hukuman ekonomi akan jauh melebihi sanksi yang telah dijatuhkan AS terhadap Iran.
"Jika ada permusuhan, bahwa mereka melakukan apa pun yang kami pikir tidak pantas, kami akan memberikan sanksi pada Irak, sanksi yang sangat besar terhadap Irak."
Trump memberikan alasan karena AS telah berinvestasi membangun pangkalan militer di Irak.