MOSKOW
Intervensi militer Rusia terhadap Ukraina adalah "tindakan yang terpaksa," kata Presiden Vladimir Putin pada Kamis.
"Apa yang terjadi baru-baru ini adalah tindakan terpaksa. Kami tidak punya pilihan untuk bertindak berbeda," kata Putin pada pertemuan dengan dunia bisnis Rusia di Moskow, menggarisbawahi bahwa ada "risiko dalam keamanan sehingga tidak ada cara lain untuk menanggapi."
Dia mengatakan semua upaya Rusia untuk mengatasi masalah keamanan tidak membuahkan hasil dan tidak menghasilkan kemajuan bahkan "satu milimeter pun", menekankan bahwa Moskow telah menghadapi risiko eksistensial.
Mengenai sanksi Barat, Putin mengatakan Rusia tetap menjadi bagian dari ekonomi global dan tidak akan membahayakan sistem ini saat berada di dalamnya.
"Mitra kami harus memahami ini, dan tidak menetapkan tujuan untuk mendorong kami keluar dari sistem ini," tutur dia.
Dia meminta perwakilan dunia bisnis untuk menanggapi "apa yang terjadi dengan pemahaman" dan bekerja dengan pemerintah untuk mencari alat yang akan mendukung ekonomi dan industri.
Adapun pemerintah, kata dia, tugas utamanya adalah menyediakan kondisi yang menguntungkan dan prediktabilitas untuk bisnis.
"Kami tidak dapat memperkirakan risiko geopolitik, tetapi dalam hubungan antara pemerintah dan bisnis, Anda berhak mengharapkan prediktabilitas," ujar Putin.
Tampak putus asa, perwakilan bisnis menyatakan harapan bahwa Rusia tidak akan menutup diri terhadap ekonomi global dan mengeluh tentang sanksi yang mereka katakan membuat pekerjaan mereka sangat sulit.
- Krisis Donbas dan intervensi militer Rusia
“Revolusi Maidan” pada Februari 2014 di Ukraina menyebabkan mantan Presiden Viktor Yanukovych melarikan diri dari negara itu dan pemerintah pro-Barat berkuasa di Ukraina.
Perkembangan itu diikuti pencaplokan wilayah Krimea oleh Rusia secara ilegal dan kelompok separatis di sana mendeklarasikan kemerdekaan di wilayah Donetsk dan Luhansk di Donbas di timur Ukraina, yang keduanya memiliki populasi etnis Rusia yang besar.
Ketika bentrokan meletus antara pasukan separatis yang didukung Rusia dan tentara Ukraina, perjanjian Minsk 2014 dan 2015 ditandatangani di Moskow setelah intervensi kekuatan Barat.
Konflik di sana berlangsung selama bertahun-tahun dengan pelanggaran gencatan senjata terus-menerus. Sekitar 14.000 orang tewas dalam konflik di Ukraina timur hingga Februari 2022.
Ketegangan mulai meningkat akhir tahun lalu ketika Ukraina, AS dan sekutunya menuduh Rusia mengumpulkan puluhan ribu tentara di perbatasan Ukraina.
Mereka mengklaim Rusia sedang bersiap untuk menyerang tetangga baratnya Ukraina, tuduhan yang secara konsisten ditolak oleh Moskow.
Menantang ancaman sanksi oleh Barat, Moskow secara resmi mengakui Donetsk dan Luhansk sebagai negara merdeka, diikuti dengan dimulainya operasi militer di Ukraina pada Kamis 24 Februari.
Putin mengatakan operasi itu bertujuan untuk melindungi orang-orang yang “menjadi sasaran genosida” oleh Kyiv dan “demiliterisasi dan denazifikasi” Ukraina, sambil menyerukan tentara Ukraina untuk meletakkan senjatanya.