Muhammad Abdullah Azzam
02 Juli 2020•Update: 02 Juli 2020
Mehmet Burak Karacaoğlu, Eşref Musa, Ahmet Karaahme
IDLIB, Suriah
Muhlis al-Drubi, warga Suriah yang disiksa secara ilegal oleh rezim Suriah Bashar al-Assad selama 7 tahun, tak bisa menghapus memori penyiksaan yang pernah ia derita selama di penjara rezim.
Al-Drubi, 42, warga asal kota Hama yang ditangkap pada 2012 dengan alasan mengikuti aksi demonstrasi anti-rezim dan dijebloskan ke penjara hingga 2019, mengungkapkan penyiksaan yang dialaminya kepada Anadolu Agency.
"Pasukan Assad membawa kami ke pangkalan militer di desa Deir Shimal, barat Hama, kemudian menginterogasi saya, empat saudara saya dan warga lainnya di desa. Mereka memasukkan kami ke dalam lobang ban mobil dan memukuli kami dengan paralon," tutur dia.
"Mereka menggantung kami dengan rantai yang dikaitkan ke langit-langit hingga kami mengambang 10 sentimeter dari tanah. Mereka menyiram air mendidih. Mereka juga menyundutkan rokok pada saya," tutur dia.
Kemudian al-Drubi dipindahkan ke Bandara Militer Hama, di sana dia juga disiksa dengan banyak cara.
"Mereka [pasukan rezim] langsung memukuli saya ketika saya memasuki sebuah ruangan. Mereka membuka pakaian kami secara paksa. Mereka menghadapkan wajah saya ke dinding. Kemudian saya diinterogasi dengan segala macam siksaan," ungkap dia.
Al-Drubi mengatakan tentara rezim yang menyiksanya sering menghina dan memintanya untuk berlutut di hadapan mereka.
"Tentara bertanya kepada saya dari mana asal saya. Lalu mereka menghina ibu saya ketika aku mengatakan berasal dari Hama. Mereka memukul kami dengan sabuk mesin hingga kulit kami memar,” ujar dia.
Dia menyebut para penyiksanya bukanlah manusia.
Sebanyak 14.235 orang terbunuh, termasuk sedikitnya 173 anak-anak dan 46 wanita, dalam insiden penyiksaan oleh pasukan rezim Assad ketika revolusi rakyat dimulai di Suriah sejak Maret 2011, menurut sebuah laporan dari Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah (SNHR).