Elena Teslova
13 Juli 2023•Update: 17 Juli 2023
MOSKOW
Kementerian Luar Negeri Rusia pada Rabu mengatakan bahwa KTT NATO di Vilnius, Lithuania menandakan kembalinya aliansi ke pemikiran dan "skema" era Perang Dingin.
Dalam sebuah pernyataan di situsnya, kemlu Rusia mengatakan Barat "melindungi kepentingan 1 miliar" -- populasi negara-negara Barat -- dan memperjuangkan hegemoninya, berusaha menghentikan pembentukan dunia multipolar, termasuk dengan cara militer.
“Bagi Barat, 'aturan berbasis tatanan' adalah hak prerogatif yang dirampas untuk melanggar hukum internasional. Hasil dari tindakan NATO sudah diketahui dengan baik – proliferasi sarang ketidakstabilan, penghancuran negara, terorisme yang merajalela, kejahatan perang yang tidak dihukum, pertumpahan darah dari warga sipil, termasuk anak-anak, arus pengungsi yang tak ada habisnya," tekan Moskow.
Aliansi tersebut membuktikan ketidakmampuannya untuk beradaptasi dengan situasi geopolitik baru dan tuntutan dalam domain keamanan dan AS serta sekutunya juga berusaha menahan pembentukan pusat-pusat dunia multipolar, tekan kemlu Rusia.
Kementerian tersebut juga menuduh NATO telah munafik, aliansi tersebut menuduh Rusia sebagai ancaman sambil meningkatkan kehadiran militernya dan membangun fasilitas penyimpanan militer di dekat perbatasan Rusia, melatih tindakan ofensif terhadap Rusia dalam latihan militer.
Layanan diplomatik menunjukkan bahwa jumlah pasukan di daerah sekitar Rusia meningkat menjadi 300.000 dan tidak ada yang menyangkal bahwa sistem pertahanan udara dikerahkan melawan Rusia.
"NATO secara konsisten menurunkan ambang penggunaan kekuatan dan memperkuat komponen nuklir dalam perencanaan militer," ujar pernyataan pernyataan itu.
Ukraina menjadi ujung tombak perang NATO melawan Rusia dan dijanjikan keanggotaan dan senjata jarak jauh, sebut dia.
Pada saat yang sama, Georgia, Bosnia dan Herzegovina, dan Moldova berada di urutan berikutnya untuk bergabung dengan barisan aliansi tersebut. Finlandia dan Swedia diterima dengan cara yang dipercepat, dan Kutub Utara sedang dimiliterisasi.
"Timur Tengah dan Afrika telah dinyatakan sebagai zona kepentingan strategis di mana Washington dan sekutunya berusaha memaksakan perintah mereka sendiri dan menyedot sumber daya menurut pola neokolonial.
"NATO memperluas tentakelnya di kawasan Indo-Pasifik dengan dalih fiktif bahwa perkembangan situasi di sana 'dapat secara langsung mempengaruhi keamanan Euro-Atlantik'," kata kementerian Rusia tersebut.
Menurut kementerian itu, banyak negara "sangat prihatin" tentang kebijakan, tindakan, dan konstruksi militer NATO, yang "secara langsung bertentangan dengan tugas objektif untuk membentuk tatanan dunia baru yang adil tanpa garis artifisial, membagi negara menjadi teman dan musuh."
"Keamanan hanya dapat dipisahkan, dan tidak dapat diperkuat dengan mengabaikan keamanan orang lain. Tidak peduli seberapa jauh rencana geopolitik Washington dan Brussels meluas, dunia tidak akan menjadi 'dunia NATO'," tegas otoritas Rusia.
Kementerian menekankan bahwa hasil KTT Vilnius akan "dianalisis dengan cermat."
“Dengan mempertimbangkan tantangan dan ancaman yang teridentifikasi terhadap keamanan dan kepentingan Rusia, kami akan menanggapi secara tepat waktu dan tepat dengan menggunakan semua cara dan metode yang kami miliki," pungkas kemlu Rusia.