24 Januari 2024•Update: 26 Januari 2024
ANKARA
Selandia Baru pada Selasa mengumumkan bahwa mereka akan mengerahkan tim pertahanan beranggotakan enam orang ke kawasan Timur Tengah untuk menjaga keamanan maritim di Laut Merah.
Dalam pernyataan bersama dengan Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters dan Menteri Pertahanan Judith Collins, Perdana Menteri Christopher Luxon mengatakan pasukan tersebut tidak akan memasuki Yaman.
“Serangan Houthi terhadap kapal komersial dan angkatan laut adalah tindakan ilegal, tidak dapat diterima, dan sangat mengganggu stabilitas,” kata Luxon.
Dia menambahkan bahwa koalisi pertahanan “akan berkontribusi pada pertahanan kolektif kapal-kapal di Timur Tengah, sesuai dengan hukum internasional, dari markas operasional di wilayah tersebut dan di tempat lain.”
Pengerahan militer tersebut akan diakhiri paling lambat tanggal 31 Juli 2024.
Ketegangan meningkat di Laut Merah setelah serangan Houthi terhadap kapal komersial yang diduga memiliki hubungan dengan Israel.
Kelompok Houthi mengatakan serangan mereka bertujuan untuk menekan Israel agar menghentikan serangan mematikan ke Jalur Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 25.295 orang sejak serangan lintas batas oleh kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin bulan lalu mengumumkan pembentukan misi multinasional, Operation Prosperity Guardian, untuk melawan serangan Houthi.
AS dan Inggris melancarkan serangan udara terhadap sasaran Houthi di Yaman dalam beberapa hari terakhir sebagai pembalasan atas serangan tersebut, yang telah menciptakan kekhawatiran akan terjadinya serangan inflasi baru dan gangguan rantai pasokan.
Laut Merah adalah salah satu jalur laut yang paling sering digunakan di dunia untuk pengiriman minyak dan bahan bakar.
Jalur ini digunakan untuk transit perdagangan antara Terusan Suez di Mesir dan Teluk Aden, sehingga memungkinkan kapal menghindari rute yang jauh lebih mahal dan panjang melintasi pantai selatan Afrika.