Rhany Chairunissa Rufinaldo
18 Mei 2020•Update: 18 Mei 2020
Enes Canli
ANKARA
Tentara Libya pada Senin berhasil merebut kembali pangkalan udara Al-Watiya yang ditempati oleh milisi panglima perang Khalifa Haftar.
Pangkalan udara utama itu sekarang kembali di bawah kendali pemerintah setelah sekitar enam tahun di bawah pasukan pemberontak.
Keberhasilan itu diumumkan oleh kantor media dari Operasi Burkan Al-Ghadab (Gunung Api Kemarahan), yang mengutip Osama al-Juwaili, komandan Operasi Badai Perdamaian.
Langkah itu dilakukan setelah tentara Libya, dalam 48 jam terakhir, menghancurkan total tiga sistem pertahanan udara jenis Pantsir buatan Rusia yang dipasok oleh Uni Emirat Arab (UEA) kepada Haftar.
Al-Watiya dianggap sebagai pangkalan udara utama di negara itu.
Pangkalan udara tersebut diduduki oleh Haftar, komandan bersenjata yang berbasis di Libya Timur, sejak Agustus 2014.
Milisi Haftar menggunakannya sebagai markas untuk operasi di wilayah-wilayah barat.
Pasukan Haftar melancarkan serangan ke pemerintah Libya sejak April 2019, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Pemerintah Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk melawan serangan-serangan di ibu kota.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.