Maria Elisa Hospita
10 Maret 2020•Update: 11 Maret 2020
Peter Kenny
JENEWA
Tunangan Jamal Khashoggi mendesak PBB dan Uni Eropa untuk meluncurkan penyelidikan internasional terkait pembunuhan jurnalis itu.
Desakan itu disampaikan oleh Hatice Cengiz, seorang peneliti dan aktivis Turki, dalam konferensi pers "500 Hari Pascapembunuhuhan Jurnalis Saudi Jamal Khashoggi" yang diselenggarakan oleh Geneva Association of United Nations Correspondents (ACANU).
Cengiz membahas sebuah laporan yang disusun oleh Pelapor Khusus PBB Agnes Callamard, yang telah menemukan "bukti kredibel" tentang keterlibatan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam pembunuhan 17 bulan lalu.
"Temuan-temuan dari laporan ini sangat jelas. Harus ada penyelidikan internasional. Namun, kenapa tidak ada tanda-tanda ini? Saya ingin mempertanyakan legitimasi, legalitas, dan otoritas PBB," tegas Cengiz.
Dia mengungkapkan bahwa dirinya bermaksud membujuk Eropa dan negara-negara anggota PBB lainnya untuk mendukung penyelidikan internasional.
"Ini adalah kesempatan emas Eropa untuk membuktikan legitimasinya kepada dunia," kata dia lagi.
Khashoggi, seorang kolumnis The Washington Post, dibunuh dan jasadnya dipotong-potong oleh tim pembunuh, setelah dia memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018.
Hingga saat ini, jasadnya pun tak pernah ditemukan.
Dalam laporannya, Callamard menyimpulkan bahwa pembunuhan Khashoggi adalah "eksekusi yang disengaja dan terencana", dan dia mendesak agar Mohammed bin Salman diselidiki.
Meskipun begitu, putra mahkota itu bersikeras dirinya tidak terlibat dalam pembunuhan itu.
Akhir tahun lalu, Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati untuk lima orang karena keterlibatan mereka dalam pembunuhan Khashoggi.
"Semua itu, pengadilan itu, terjadi di balik pintu tertutup. Saya tidak menerima putusannya. Saya masih mencari keadilan, dan akan terus melakukannya," tambah Cengiz.