25 Oktober 2022•Update: 26 Oktober 2022
ISTANBUL
Ukraina pada Senin meminta masyarakat internasional untuk menggagalkan upaya Rusia untuk menunda inspeksi kapal yang melewati koridor gandum di bawah kesepakatan ekspor biji-bijian di Istanbul.
“Kami menyerukan kepada masyarakat internasional, khususnya negara-negara Afrika dan Asia yang bergantung pada ekspor biji-bijian Ukraina, untuk menuntut agar Rusia segera menghentikan ‘penundaan buatan’ dalam inspeksi kapal koridor biji-bijian. Kita tidak boleh membiarkan Kremlin menyandera jutaan orang dalam permainan kelaparannya,” kata Kementerian Luar Negeri Ukraina dalam sebuah pernyataan.
Otoritas Ukraina mengklaim inspektur Rusia yang ditugaskan di Pusat Koordinasi Gabungan Istanbul telah memperpanjang pemeriksaan kapal yang menuju ke pelabuhan Ukraina sejak 14 Oktober, yang mengakibatkan lebih dari 165 kapal mengantri di dekat Selat Bosporus yang menghubungkan Laut Marmara dan Laut Hitam.
Kyiv mendefinisikan penundaan Rusia itu "bermotivasi politik," dan menambahkan bahwa Moskow baru-baru ini mencoba "mempertanyakan koridor gandum tanpa alasan yang sah dengan tujuan untuk memperbarui kesepakatan."
Mereka menambahkan bahwa 3 juta ton ekspor biji-bijian Ukraina dicegah oleh Moskow, yang menyebabkan 10 juta orang di seluruh dunia belum menerima makanan pada waktunya karena “agenda politik Rusia.”
“Kami tetap berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan PBB dan TUrki untuk memastikan berfungsinya koridor biji-bijian Laut Hitam tanpa hambatan,” tambah pernyataan itu.
Turki, PBB, Rusia, dan Ukraina menandatangani perjanjian di Istanbul pada 22 Juli untuk melanjutkan ekspor gandum dari tiga pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, yang dihentikan sementara setelah dimulainya perang Rusia-Ukraina pada Februari.
Pusat koordinasi dengan pejabat dari tiga negara dan PBB didirikan di Istanbul untuk mengawasi pengiriman tersebut.
Sejak kapal pertama meninggalkan Ukraina berdasarkan kesepakatan pada 1 Agustus, lebih dari 365 kapal dengan lebih dari 8 juta ton produk pertanian telah meninggalkan pelabuhan Ukraina.
Para pihak saat ini sedang merundingkan kemungkinan untuk memperpanjang kesepakatan yang akan berakhir pada 19 November.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa tidak ada hambatan dalam perpanjangan perjanjian itu.