Muhammad Abdullah Azzam
13 Mei 2020•Update: 13 Mei 2020
Agnes Szucs
BRUSSELS
Uni Eropa (UE) mendesak gencatan senjata secepatnya di Libya di tengah bentrokan yang sedang berlangsung antara tentara negara itu dan pasukan ilegal jenderal Khalifa Haftar.
"Gencatan senjata harus berjalan seiring dengan dimulainya kembali segera perundingan yang diperantarai oleh PBB antara berbagai pihak," kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell dalam sebuah pernyataan pada Selasa.
Dia juga menegaskan kembali komitmen UE untuk Perjanjian Politik Libya 2015 - di mana pemerintah Libya dibentuk - sebagai dasar untuk mengakhiri konflik.
Uni Eropa mengutuk "eskalasi kekerasan yang berlanjut" oleh pihak yang menunjukkan rasa tidak hormat terhadap hukum internasional.
Pernyataan itu juga menyerukan berbagai pihak yang terlibat untuk "mengizinkan dan memfasilitasi pengiriman bantuan dan layanan kemanusiaan yang aman, cepat dan tanpa hambatan kepada semua pihak yang terkena dampak."
Pada April 2019, pasukan Haftar melancarkan serangan terhadap ibukota dan wilayah yang dikuasai pemerintah Libya.
Sejak itu pasukan ilegal Haftar telah bertanggung jawab atas kematian lebih dari 1.000 orang.
Pemerintah Libya melancarkan Operasi Perdamaian Badai pada 26 Maret untuk membalas serangan di ibukota.