Furkan Naci Top
04 Mei 2018•Update: 04 Mei 2018
Furkan Naci Top
LESBOS, Yunani
Penduduk yang menganut paham sayap kanan di pulau Lesbos, Yunani, bentrok dengan polisi pada Kamis malam karena krisis migran yang sedang berlangsung, menurut laporan media setempat.
Protes terbaru itu terjadi di tengah kunjungan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras ke pulau itu, di mana sekitar 2.500 orang turun ke jalanan menuntut agar semua migran dievakuasi dari kamp pengungsi Moria di Lesbos.
Lesbos menampung sekitar 9.000 pencari suaka.
Polisi melepaskan gas air mata untuk membubarkan demonstran, yang membawa spanduk dengan pesan anti-pengungsi. Tidak ada penangkapan atau cedera yang dilaporkan.
Berbicara dalam sebuah konferensi, Tsipras membela kesepakatan migran dan mengatakan situasi itu mungkin "tiga kali lebih buruk" jika tidak ada perjanjian migrasi antara Uni Eropa dan Turki.
"Kami tidak puas dengan situasi ini, dan ini sangat sulit baik bagi penduduk pulau dan migran," kata Tsipras, yang mengakui pemerintahnya melakukan beberapa kesalahan dalam menangani krisis migran.
Pada 23 April, kelompok sayap kanan menyerang beberapa migran sehingga sekitar 10 orang dilarikan ke rumah sakit.
Menurut media Yunani, kelompok ekstrim kanan meneriakkan ancaman seperti "Bakar mereka hidup-hidup!" dan melemparkan botol kaca dan batu ke para migran.
Para migran membentuk formasi perisai manusia untuk melindungi perempuan dan anak-anak namun menolak meninggalkan alun-alun.
Pada Maret 2016, Turki dan Uni Eropa menandatangani kesepakatan untuk membendung aliran migrasi ilegal melalui Laut Aegea dengan mengambil langkah-langkah ketat terhadap pedagang manusia dan memperbaiki kondisi untuk hampir 3 juta pengungsi Suriah di Turki.
Setelah kesepakatan Turki-UE itu, jumlah kematian pengungsi di wilayah Aegea turun dari 805 pada 2015 menjadi 434 pada 2016 dan menjadi 61 pada 2017, dengan 19 kematian sejauh ini pada 2018, menurut data PBB.