Nicky Aulia Widadio
02 September 2020•Update: 03 September 2020
JAKARTA
Pemerintah Indonesia menargetkan vaksin merah putih yang tengah dikembangkan di dalam negeri akan diuji klinis pada awal 2021.
Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan progres pengembangan vaksin merah putih telah mencapai 40 persen.
Vaksin ini dikembangkan oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan masuk dalam Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.
“Sedang disiapkan untuk sel mamalianya, harapannya akhir tahun bisa menyelesaikan uji pada hewan sehingga di awal depan Eijkman bisa menyerahkan bibit vaksin ke Bio Farma untuk uji klinis tahap pertama,” kata Bambang dalam konferensi virtual pada Rabu.
Menurut dia, vaksin merah putih bisa mulai diproduksi massal pada kuartal ketiga 2021.
Vaksin merah putih yang diproduksi secara mandiri diharapkan bisa melengkapi kebutuhan dalam negeri.
Indonesia sebagai negara dengan populasi 267 juta penduduk membutuhkan vaksin sebanyak 300 juta hingga 400 juta ampul vaksin.
Selain Eijkman, ada empat institusi yang juga mengembangkan vaksin produksi dalam negeri yakni Universitas Indonesia, Instititut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Bambang menuturkan pemerintah juga tengah berusaha meningkatkan kapasitas produksi vaksin dalam negeri.
PT Bio Farma telah menyatakan mampu memproduksi 250 juta ampul vaksin pada 2021.
“Untuk menunjang Bio Farma, konsorsium juga akan merangkul perusahaan swasta nasional yang sedang menyiapkan diri untuk memproduksi vaksin,” kata Bambang.
Sejumlah perusahaan swasta, kata dia, tengah mengajukan izin untuk memproduksi obat dan vaksin ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Selain mengembangkan secara mandiri, Indonesia juga telah bekerja sama dalam pengembangan bibit vaksin dengan sejumlah negara seperti China, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan.
Saat ini bibit vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan China, Sinovac Biotech telah berada di Indonesia untuk diuji klinis tahap ketiga.
Uji klinis selama enam bulan dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dengan melibatkan 1.620 relawan sejak 11 Agustus 2020.