İqbal Musyaffa
15 Oktober 2019•Update: 16 Oktober 2019
JAKARTA
Penghasilan buruh tani dan buruh bangunan sedikit membaik. Pada September, upah nominal buruh tani meningkat 0,13 persen menjadi Rp54.424 per hari.
Kenaikan tersebut dibandingkan bulan Agustus yang sebesar Rp54.354 per hari.
Selain itu, upah riil buruh tani atau daya beli petani juga mengalami kenaikan sebesar 0,87 persen menjadi Rp38.233 per hari dari bulan sebelumnya Rp37.904 per hari.
“Selama bulan September ini terjadi deflasi di pedesaan yang cukup dalam yaitu 0,73 persen sehingga kenaikan upah riil petani lebih tinggi daripada upah nominalnya,” kata Kepala BPS Suhariyanto.
Suhariyanto menambahkan, selain buruh tani, upah buruh bangunan (tukang bukan mandor) naik tipis sebesar 0,01 persen dari Rp89.063 per hari menjadi Rp89.072 per hari pada September 2019.
“Daya belinya juga meningkat, ditandai dengan upah riil naik 0,28 persen dari Rp64.190 per hari menjadi Rp64.372 per hari,” lanjut dia.
Suhariyanto mengatakan upah buruh potong rambut wanita naik 0,08 persen dari Rp28.372 per kepala pada Agustus menjadi Rp28.395 per kepala pada September.
Sementara upah riilnya juga mengalami peningkatan 0,35 persen dari Rp20.449 per kepala menjadi Rp 20.521 per kepala.
Selanjutnya, untuk upah pembantu rumah tangga juga mengalami kenaikan 0,40 persen dari Rp415.422 per bulan pada Agustus menjadi Rp417.084 per bulan pada September kemudian upah riilnya juga meningkat 0,68persen dari Rp299.403 menjadi Rp301.426.
"Sama seperti buruh tani, sepanjang September terjadi deflasi 0,27 persen secara nasional, sehingga upah riil buruh lebih tinggi,” kata Suhariyanto.
Dia mengatakan inflasi sepanjang tahun ini cukup terkendali, dan berharap sampai akhir tahun 2019 inflasi tetap terkendali sehingga daya beli bisa bertahan.