Arnaud Dubus
BANGKOK, Thailand
Operasi penyelamatan 12 anak dan pelatih sepak bola mereka yang terperangkap selama hampir dua minggu di sebuah gua yang dalam di utara Thailand mengalami perubahan yang tragis pada Jumat, saat seorang penyelam tewas ketika mencoba memasang tangki oksigen di gua untuk mempersiapkan evakuasi.
Saman Kunan, 38, mantan anggota Angkatan Laut Thailand, meninggal karena kekurangan oksigen saat kembali dari dalam gua yang banjir.
Wakil Gubernur Provinsi Chiang Rai Utara Passakorn Boonyaluck mengatakan, mantan perwira AL itu tewas dalam perjalan keluar dari gua. Misi dia membawa tangki udara ke dalam gua.
“Dalam perjalanan kembali dia kehabisan oksigen. Itu membuatnya tak sadarkan diri dan meninggal dunia,” kata Boonyaluck.
Ini adalah kematian pertama dalam operasi penyelamatan panjang, di mana sekitar 1.200 orang terlibat. Termasuk banyak sukarelawan, dan ahli dari sejumlah besar negara seperti Amerika, Australia, dan China.
Kematian ini menimbulkan keraguan tentang kemungkinan mengajarkan anak-anak dasar-dasar menyelam agar mereka dapat keluar dari gua melalui cara yang digunakan oleh penyelamat.
Tak satu pun dari anak-anak, yang berusia antara 11 dan 16 tahun itu, tahu cara berenang.
Mereka ditemukan hampir dua kilometer (1,2 mil) di dalam gua oleh tim penyelam Inggris pada Senin malam setelah tinggal dalam kegelapan tanpa makanan selama sembilan hari.
Waktu hampir habis meskipun hujan deras terjadi lagi selama akhir pekan, yang akan menaikkan level air di dalam gua.
Operasi pemompaan besar-besaran telah dilakukan selama lebih dari seminggu dengan laju 180.000 liter tetapi tanpa hasil yang jelas karena air bawah tanah mengisi gua.
Ketinggian air menurun di tiga ruang besar di gua. Tetapi, untuk dievakuasi, anak-anak masih harus menyeberangi jalan yang panjang dan sempit di bawah air.
Pihak berwenang juga khawatir tentang cepatnya penurunan kadar oksigen di dalam gua akibat banyaknya penyelamat yang berpartisipasi dalam operasi itu. Penyelamat Thailand sekarang memompa oksigen ke gua bawah tanah.
Pihak berwenang juga mengkhawatirkan hujan yang diprediksi Minggu ini bisa mengisi kembali gua tersebut.
Solusi alternatif adalah mengevakuasi anak-anak dan pelatih mereka melalui poros yang dalam yang telah ditemukan di gunung yang berada di atas gua dan terhubung ke tempat anak-anak itu berada sekarang.
“Kami telah menemukan poros tetapi kami belum menjelajahi sepenuhnya. Para penyelamat akan bermalam di sana dan melanjutkan operasi pada hari Sabtu,” kata Wakil Direktur Taman Nasional dan Hutan Jongklai Worapongsathorn kepada Anadolu Agency.
news_share_descriptionsubscription_contact
