Muhammad Abdullah Azzam
09 September 2020•Update: 10 September 2020
Kyaw Ye Lynn
YANGON, Myanmar
Lima warga sipil tewas setelah peluru mortir pada Selasa menghantam sebuah desa di negara bagian Rakhine yang dilanda konflik di Myanmar.
Pe Than, seorang anggota parlemen majelis rendah dari kotapraja Myebon, mengatakan kepada Anadolu Agency melalui sambungan telepon bahwa dua anak berusia 7 tahun dan tiga wanita tewas dan delapan lainnya terluka.
"Empat mortir mendarat di desa Nyaungkan di kota Myebon, negara bagian Rakhine pada Selasa pagi, menewaskan lima warga desa etnis Rakhine," imbuh dia.
Dia mengungkapkan desa tersebut cukup jauh dari daerah tempat militer dan Tentara Arakan, kelompok pemberontak etnis yang sering terlibat bentrokan bersenjata.
Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas insiden mematikan tersebut.
Media lokal melaporkan bahwa penduduk desa menuduh militer menembakkan peluru mortir dari pangkalan militer di dekatnya.
"Siapapun yang melakukannya, itu adalah kejahatan perang," ujar Pe Than.
Meningkatnya konflik antara militer dan Tentara Arakan sejak awal 2019 telah membuat pemilu yang akan datang di wilayah tersebut menjadi tidak pasti.
Komisi Pemilihan Umum mengumumkan bahwa mereka pada bulan depan (Oktober) akan memutuskan apakah akan mengizinkan pemungutan suara di negara bagian Rakhine serta di daerah etnis lain di mana militer dan kelompok pemberontak bertikai.
Myanmar telah menetapkan 8 November untuk pemilihan umum dan partai politik telah memulai kampanye pemilihan pada Selasa.