Rhany Chairunissa Rufinaldo
08 Maret 2021•Update: 08 Maret 2021
Rodrigue Forku
YAOUNDE, Kamerun
Sedikitnya 20 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka dalam empat ledakan di barak tentara di Bata, kota terpadat di Guinea Ekuator.
Ledakan itu terjadi pada Minggu sekitar pukul 16.00 waktu setempat, menurut pernyataan Presiden Teodoro Obiang Nguema Mbasogo pada Minggu malam.
Mbasogo mengatakan ledakan tersebut terjadi akibat kelalaian dan kesalahan penanganan dinamit di barak militer di lingkungan Mondong Nkuantoma yang merusak hampir semua rumah dan bangunan Bata.
Presiden mengatakan dia menginstruksikan pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan yang diperlukan untuk sepenuhnya mengklarifikasi apa yang terjadi dan tanggung jawab yang mungkin timbul, serta menghitung kerusakan yang ditimbulkan.
Dia juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang.
Presiden menyampaikan seruan untuk mencari dukungan dari komunitas internasional dan dermawan nasional untuk Guinea Ekuator di masa-masa sulit yang bertepatan dengan krisis ekonomi akibat jatuhnya harga minyak dan pandemi Covid-19.
"Para profesional kesehatan kami terus memberikan perawatan di lokasi tragedi dan di pusat-pusat kesehatan," kata Kementerian Kesehatan, Minggu malam.
Menurut kementerian, korban luka diangkut ke Rumah Sakit Umum Bata, Rumah Sakit La Paz, dan Rumah Sakit Nuevo Inseso.
Guinea Ekuator adalah negara Afrika Tengah yang terdiri dari daratan Rio Muni dan lima pulau lepas pantai vulkanik.
Ibu kota Malabo, di Pulau Bioko, adalah pusat industri minyak negara yang makmur, sementara Bata adalah kota pelabuhan dan komersial.
Perekonomian negara sangat bergantung pada industri minyak dan gas alamnya, yang menyumbang lebih dari 60 persen dari produk domestik bruto, 80 persen dari pendapatan fiskal, dan 86 persen ekspornya pada 2015, menurut laporan Dana Moneter Internasional (IMF).