Muhammed Yasin Güngör
30 April 2026•Update: 30 April 2026
Amerika Serikat telah menghabiskan sekitar 25 miliar dolar AS untuk perang melawan Iran, menurut pejabat senior Pentagon dalam kesaksian di hadapan komite DPR pada Rabu.
Pelaksana tugas Kepala Keuangan Departemen Pertahanan Jules W. Hurst III mengatakan sebagian besar pengeluaran berasal dari pembelian amunisi.
Ia menambahkan bahwa biaya operasi dan pemeliharaan, serta penggantian peralatan, juga termasuk dalam total belanja tersebut.
Hurst menyebut pihaknya akan segera mengajukan permintaan anggaran tambahan resmi kepada Kongres melalui Gedung Putih setelah penilaian penuh terhadap biaya konflik selesai dilakukan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan anggaran sebesar 1,5 triliun dolar AS yang diajukan untuk tahun fiskal 2027 mencerminkan urgensi situasi saat ini, sekaligus untuk mengatasi berbagai persoalan lama dan mempersiapkan kekuatan militer menghadapi tantangan ke depan.
Ia menilai pemerintahan sebelumnya melemahkan basis industri pertahanan, dan menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump kini berupaya mengembalikannya ke kondisi siap perang.
Dalam sidang tersebut, Hegseth menolak keras anggapan bahwa perang dengan Iran merupakan kesalahan strategis atau kebuntuan, serta menilai pandangan tersebut dapat merusak misi militer. Ia juga menyatakan publik Amerika masih mendukung operasi tersebut.
Menanggapi kekhawatiran soal menipisnya persediaan amunisi, Hegseth menegaskan tidak ada kekurangan dalam pasokan global dan menyebut anggaran yang diajukan akan memungkinkan peningkatan produksi rudal hingga tiga atau empat kali lipat.
Ia juga membandingkan taktik Teheran dengan Korea Utara, dengan menyatakan Iran menggunakan senjata konvensional sebagai alat tekanan sambil mengejar kemampuan nuklir.
Terkait isu pembelian rudal China oleh Iran, Hegseth membantah klaim tersebut dan menyatakan hal itu tidak terjadi.
Hegseth juga menyoroti ancaman dari produksi drone China dan menyatakan dukungannya terhadap larangan drone DJI karena alasan keamanan nasional. Ia menambahkan bahwa drone akan menjadi elemen penting dalam perang di masa depan dan mengumumkan rencana pembentukan komando khusus untuk peperangan otonom.
Ia juga mengakui bahwa persaingan teknologi, termasuk di bidang komputasi kuantum, akan menentukan dominasi di masa depan.
Terkait Ukraina, Hegseth mengkritik pemerintahan sebelumnya karena memberikan bantuan militer dalam jumlah besar tanpa akuntabilitas, namun menyambut kontribusi Eropa yang kini ikut menanggung biaya dukungan bagi Kyiv.
Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengatakan perubahan cepat dalam karakter perang, termasuk perkembangan teknologi otonom, sistem bawah laut, ruang angkasa, siber, dan operasi informasi, membutuhkan investasi yang lebih besar.
Ia menjelaskan anggaran tersebut dirancang untuk mengantisipasi perkembangan teknologi.
Menanggapi pertanyaan mengenai penempatan tiga kapal induk di Timur Tengah, Caine mengakui adanya konsekuensi strategis, namun menyatakan yakin Presiden Trump telah mempertimbangkan risiko tersebut secara matang.
Ia menambahkan bahwa penggunaan kekuatan militer nasional ditentukan berdasarkan situasi politik dan keamanan yang dinilai presiden, bukan semata kerangka strategi.