Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan mengatakan Israel sedang “menginjak-injak nilai-nilai bersama kemanusiaan” melalui berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya, seraya menegaskan perlunya reformasi terhadap tatanan global saat ini.
Pernyataan itu disampaikan Erdogan dalam artikel berjudul “Kunci Perdamaian di Eurasia: Dunia Turki” yang ditulis untuk kantor berita Kazakhstan, Kazinform, sebagaimana diumumkan Direktur Komunikasi Turkiye Burhanettin Duran melalui media sosial pada Kamis.
Artikel tersebut diterbitkan setelah kunjungan Erdogan ke Astana untuk menghadiri pertemuan keenam Dewan Kerja Sama Strategis Tingkat Tinggi Turkiye-Kazakhstan.
Dalam artikelnya, Erdogan mengatakan konflik dan krisis regional saat ini menjadi tantangan besar terhadap keamanan global, kemakmuran ekonomi, dan stabilitas dunia.
Ia menyebut sistem global sedang menghadapi ujian serius akibat munculnya risiko-risiko asimetris baru yang dipicu persaingan geopolitik, gangguan keamanan pasokan energi, serta volatilitas finansial terkait.
Erdogan juga menyoroti transformasi besar yang dipicu kecerdasan buatan telah memperdalam kerentanan sistem global.
“Seperti yang telah lama kami sampaikan, tantangan-tantangan ini memperlihatkan kelemahan sistem internasional dan mekanisme tata kelola global saat ini, sekaligus mendesaknya kebutuhan reformasi,” kata Erdogan.
Mengacu pada pidatonya di Sidang Umum PBB pada 2014, Erdogan kembali menekankan ketimpangan dalam sistem global melalui pesan “dunia lebih besar dari lima,” yang menurutnya kini semakin relevan.
Ia mengatakan krisis kemanusiaan di Gaza telah memperlihatkan kelemahan tatanan internasional yang ada saat ini.
Menurut Erdogan, Turkiye meyakini krisis global dan regional hanya dapat diselesaikan melalui tatanan yang didasarkan pada “aturan yang dapat ditegakkan.”
Dia menegaskan Ankara terus mengambil tanggung jawab melalui diplomasi perdamaian, upaya mediasi, dan dialog berbasis kepercayaan demi mendorong perdamaian dan kemakmuran global.
Erdogan juga menekankan pentingnya penguatan kerja sama bilateral, regional, dan global guna menciptakan tatanan internasional yang lebih adil, inklusif, dan stabil.
Ia menyebut penyelesaian sengketa seharusnya dilakukan melalui pendekatan “kepemilikan regional” serta kerja sama dengan negara dan organisasi tetangga, terutama Organisasi Negara-Negara Turkik.
Erdogan mengatakan kemitraan Turkiye dan Kazakhstan memiliki posisi penting dalam kebijakan luar negeri Ankara, terutama dalam menghadapi tantangan struktural Dewan Keamanan PBB, mendorong penyelesaian konflik, dan memastikan kemakmuran ekonomi berkelanjutan.
Terkait hubungan bilateral, Erdogan mengingatkan bahwa pada 1991 Turkiye menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Kazakhstan pada hari yang sama negara itu memproklamasikan kemerdekaannya.
Ia mengatakan hubungan kedua negara yang didasarkan pada sejarah bersama serta ikatan budaya dan spiritual terus berkembang semakin kuat.
Menurut Erdogan, hubungan bilateral memasuki fase baru sejak 2000-an, dengan volume perdagangan mendekati 10 miliar dolar AS.
Investasi Turkiye di Kazakhstan juga disebut hampir mencapai 6 miliar dolar AS, sementara kontraktor Turkiye telah menyelesaikan hampir 550 proyek di Kazakhstan senilai lebih dari 30 miliar dolar AS.
Erdogan dan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev juga menetapkan target perdagangan bilateral sebesar 15 miliar dolar AS.
Ia menambahkan penguatan kerja sama di bidang pendidikan, olahraga, dan budaya tetap menjadi prioritas dalam memperdalam hubungan Turkiye-Kazakhstan.
Erdogan juga mengundang masyarakat Kazakhstan ke Ankara, yang ditetapkan sebagai Ibu Kota Pariwisata Dunia Turkik 2026 oleh Organisasi Negara-Negara Turkik.
Menyoroti kunjungannya pada 14 Mei di tengah ketegangan regional dan rapuhnya gencatan senjata Gaza, Erdogan mengatakan pembicaraan dan KTT informal Negara-Negara Turkik akan berfokus pada perluasan kerja sama politik, ekonomi, dan budaya.
Ia menegaskan negara-negara Turkik akan terus bekerja demi “perdamaian, kemakmuran, dan ketenangan,” dengan berpegang pada ajaran Khoja Ahmad Yasawi: “Jika mereka yang berkekurangan tetap lapar sementara mereka yang berkecukupan tidak menitikkan air mata, maka dunia akan runtuh.”