Adidas menghadapi seruan boikot setelah kampanyenya menampilkan mantan tentara Israel Shalev Biton, dengan para pengkritik menuding perusahaan pakaian olahraga itu mendukung militer Israel dan menggunakan Biton untuk mempromosikan layanan Single Shoe Service yang dinilai dapat menguntungkan personel militer Israel.
Aktivis hak asasi manusia dan pengguna media sosial menyerukan boikot terhadap Adidas serta mempertanyakan penggunaan veteran militer Israel untuk mempromosikan program aksesibilitas bagi penyandang disabilitas di tengah perang di Gaza, tempat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 5.000 kasus amputasi anggota tubuh akibat trauma terjadi sejak Oktober 2023.
Keterlibatan Biton, yang kehilangan kaki kirinya setelah terluka dalam pertempuran di dekat Gaza pada Mei 2021, memicu pertanyaan mengenai cara Adidas menangani isu disabilitas dalam konteks perang genosida Israel di wilayah kantong Palestina tersebut.
Menurut perkiraan WHO yang dirilis pada Mei 2026, lebih dari 5.000 amputasi anggota tubuh akibat trauma dan lebih dari 22.000 cedera serius pada anggota gerak terjadi di Gaza sejak Oktober 2023.
Seruan terbaru UNICEF untuk Negara Palestina menyebutkan lebih dari 11.000 anak mengalami cedera yang mengubah kehidupan mereka hingga 3 Februari 2026.
Laporan CNN pada Januari 2024 yang mengutip Save the Children dan UNICEF menyebutkan rata-rata lebih dari 10 anak kehilangan satu atau kedua kakinya setiap hari di Gaza sejak 7 Oktober 2023, dengan sekitar 1.000 anak dilaporkan kehilangan satu atau kedua kaki hingga Desember.
WHO juga melaporkan 2.277 orang yang mengalami amputasi telah menjalani evaluasi antara September 2024 dan Mei 2026, sementara 502 orang telah mendapatkan kaki atau tangan prostetik.
Organisasi itu mengatakan Gaza menghadapi kekurangan besar layanan rehabilitasi dan alat bantu. WHO secara terpisah melaporkan lebih dari 42.000 orang di Gaza mengalami cedera yang membutuhkan rehabilitasi jangka panjang.
Para pengkritik mempertanyakan apakah warga Palestina yang kehilangan anggota tubuh mendapatkan perhatian yang sebanding dalam pembahasan mengenai aksesibilitas.
Sebagian besar kritik berfokus pada pilihan Adidas terhadap sosok yang mewakili kampanye tersebut dan situasi politik seputar perang, bukan pada Single Shoe Service itu sendiri.
Kampanye itu juga memicu perdebatan di media sosial mengenai keputusan Adidas memilih Biton sebagai perwakilan kampanye, mengingat latar belakang militernya dan konteks konflik Gaza yang lebih luas.
Aktor Spanyol Javier Bardem mengajak para pengikutnya memboikot Adidas melalui unggahan Story setelah perusahaan tersebut memutuskan mempromosikan Single Shoe Service di Israel melalui Biton, seorang mantan tentara Israel.
Adidas memperkenalkan Single Shoe Service di Eropa pada 19 Januari 2026 dan secara resmi mengumumkannya pada Maret. Perusahaan mengatakan layanan tersebut tersedia di toko-toko milik Adidas di 23 negara Eropa.
Kritik terbaru muncul dua tahun setelah Adidas menghadapi kecaman terpisah terkait perlakuannya terhadap model Amerika keturunan Palestina Bella Hadid.
Pada Juli 2024, Adidas mencoret Hadid dari kampanye sepatu retro yang merujuk pada Olimpiade Munich 1972 setelah Israel mengkritik keterlibatannya. Hadid, yang sejak lama secara terbuka menyuarakan dukungan terhadap hak-hak Palestina, kemudian menunjuk tim hukum, menurut Daily Mail yang mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Adidas kemudian meminta maaf kepada Hadid dan mitra kampanye lainnya, dengan mengatakan pihaknya telah melakukan "kesalahan yang tidak disengaja." Perusahaan juga meminta maaf kepada Hadid, A$AP Nast, Jules Kounde, dan pihak lain atas dampak negatif yang ditimbulkan serta mengatakan sedang meninjau kembali kampanye tersebut.
Namun, perusahaan tidak membatalkan keputusannya mencoret Hadid, sehingga memicu seruan boikot di media sosial.
Aktivis Palestina sekaligus Direktur Center for Islam and Global Affairs di Istanbul Zaim University, Sami Al-Arian, mengatakan kepada Anadolu bahwa Adidas telah melakukan tindakan "menargetkan selebritas dan tokoh terkenal yang mendukung perjuangan Palestina."
"Saya kira sangat mungkin terjadi boikot terhadap produk-produk Adidas yang akan membuat mereka harus memetik pelajaran dengan cara yang sulit, yakni dengan menyasar keuntungan mereka karena mereka telah memilih keuntungan ketimbang prinsip," kata Al-Arian.
Dia juga menggambarkan perlakuan perusahaan terhadap Hadid sebagai bentuk "kemunafikan tingkat tinggi dalam isu Palestina."
Komentator politik Inggris Sami Hamdi mengatakan kepada Anadolu bahwa Adidas dapat menghadapi konsekuensi serupa dengan yang dialami sejumlah merek besar lain yang menjadi sasaran kampanye boikot terkait perang Gaza.
"McDonald's, Starbucks, KFC, dan merek-merek lainnya sudah merasakan dampak gerakan boikot di negara-negara mayoritas Muslim, dengan banyak dari merek tersebut terpaksa menutup sejumlah besar gerai. Seruan untuk memboikot Adidas dengan cara yang sama juga sudah muncul," kata Hamdi.
news_share_descriptionsubscription_contact
