Pizaro Gozali Idrus
25 April 2020•Update: 27 April 2020
Handan Kazanci
ISTANBUL
Turki akan "segera memulai produksi massal" respirator buatan sendiri untuk perang melawan virus korona, ujar direktur komunikasi pemerintah Turki pada Sabtu.
"Upaya mobilisasi pemerintah kami untuk menghasilkan semua pasokan medis yang diperlukan membuahkan hasil. Kami akan segera memulai produksi massal respirator kami ‘Sahra’ yang dikembangkan secara nasional,” kata Fahrettin Altun dalam Tweet-nya.
"Kami bertekad untuk memastikan bahwa Turki tidak akan membutuhkan bantuan dari luar untuk pasokan medis," ucap dia.
Alat pernafasan buatan lokal yang dinamakan Sahra atau gurun ini, diumumkan pekan lalu oleh Menteri Pertahanan Nasional Hulusi Akar.
Altun mengatakan Ankara sejauh ini telah mengirim pasokan medis ke 54 negara, termasuk alat tes, masker, dan sarung tangan.
"Turki mendukung begitu banyak negara dan sekutu di masa sulit ini sebagai tugas kemanusiaan."
Dia juga menyampaikan upaya global Presiden Recep Tayyip Erdogan "untuk menciptakan respons bersama sambil membantu negara secara individu."
“Beberapa upaya diplomasi virus korona terbarunya di antaranya dengan berbincang dengan Kanselir [Angela] Merkel dan Emir [Sheikh Tamim bin Hamad] al-Thani. Diskusi termasuk membahas krisis saat ini dan masa depannya,” kata Altun soal pembicaraan telepon Erdohan dengan para pemimpin Jerman dan Qatar pada Jumat.
"Di negeri sendiri, kami terus mendukung warga kami selama Ramadan melalui paket bantuan tambahan 176 juta TL [USD25 juta]," kata dia.
"Semua warga negara akan diberi tambahan 1 GB internet untuk membantu mereka berkomunikasi dengan orang yang mereka cintai," tambah dia.
Pada bulan suci Ramadan, Altun berharap muslim di seluruh dunia dapat menjalankan puasa dengan aman, sehat, dan bahagia.
“Saudara-saudari kita di seluruh dunia harus tahu bahwa Turki akan selalu ada untuk mereka. Ketika kami merencanakan langkah-langkah normalisasi di akhir Ramadhan, kami berharap dapat merayakan Idul Fitri di dunia dengan lebih sehat,” kata Altun.
Muncul di China pada Desember lalu, Covid-19 telah menyebar ke setidaknya 185 negara dan wilayah.
Pandemi ini telah menewaskan lebih dari 195.900 orang, dengan jumlah pasien terinfeksi mencapai 2,8 juta, menurut data Johns Hopkins University, AS.
Sementara lebih dari 781.300 pasien telah sembuh.